Htms090+sebuah+keluarga+di+kampung+a+kimika+upd

Kampung A di Kimika UPD bukan sekadar cerita tentang kemiskinan di tengah kampus. Ia adalah pengingat bahwa sains dan kemanusiaan tidak bisa dipisahkan. Selama laboratorium membahas molekul kehidupan, di belakang temboknya, kehidupan nyata tetap berdenyut. HTMS090 adalah jendela kecil — namun cukup terang — untuk melihat denyut itu. Jika Anda ingin membaca monograf lengkap HTMS090, silakan mengunjungi perpustakaan digital Departemen Antropologi UPD atau menghubungi Tim Riset Ketahanan Keluarga Perkotaan.

Di tenguh hiruk-pikuk kampus Universitas Filipina Diliman (UPD), terselip sebuah permukiman yang jarang tersentuh mata para akademisi. Namanya Kampung A, terletak di area Kimika (Chemistry) — sebuah kawasan yang secara administratif masuk dalam lingkungan fakultas sains, namun secara sosial adalah kantong-kantong kehidupan warga berpenghasilan rendah yang telah mendiami tanah kampus selama puluhan tahun. htms090+sebuah+keluarga+di+kampung+a+kimika+upd

Sejak tahun 1992, Mang Romy — yang bekerja sebagai penjaga malam di salah satu gedung fakultas — membangun rumah ini sedikit demi sedikit dari kayu bekas, triplek, dan seng. Aling Nena berjualan gorengan di depan gerbang sisi timur kampus. Proyek HTMS090 dimulai pada bulan Agustus 2023, dipimpin oleh Dr. Maria Lourdes Tan, seorang dosen antropologi perkotaan. Tim peneliti merekam setiap aspek kehidupan keluarga Sarmiento selama 9 bulan: pola makan, interaksi dengan mahasiswa, hubungan dengan aparat kampus, hingga mimpi-mimpi kecil yang mereka simpan rapat. “HTMS090 bukan sekadar nomor. Setiap huruf dan angka mengandung makna: H untuk Habitat , T untuk Tahan Hidup , M untuk Masyarakat Marginal , S untuk Survival , 090 menandakan bahwa ini adalah kasus ke-90 yang kami dokumentasikan di area kimika UPD sejak 2018,” jelas Dr. Tan. Rutinitas di Kampung A Setiap hari, Jun membantu ibunya berjualan sebelum berangkat kerja sebagai asisten laboratorium dadakan di laboratorium mikrobiologi — pekerjaan tidak resmi yang dia jalani dengan gaji harian. Maya kuliah di jurusan pendidikan kimia di sebuah universitas swasta, biaya kuliahnya ditanggung dari tabungan Aling Nena yang menyisihkan 30% pendapatan setiap hari. Kampung A di Kimika UPD bukan sekadar cerita

“Kami tahu ini tanah kampus. Tapi sejak saya kecil, di sini sudah ada kampung. Bapak saya dulu juga kerja di sini,” kata Mang Romy dengan nada datar. HTMS090 adalah jendela kecil — namun cukup terang

Aling Nena berharap suatu hari nanti, cucunya bisa kuliah di UPD — bukan sebagai anak kampung, tetapi sebagai mahasiswa kimia yang duduk di ruang kuliah yang dulu hanya ia lihat dari sela-sela bilik kayu rumahnya.